Perasaan salah jurusan hampir selalu muncul di waktu yang sama, yaitu semester dua sampai empat, ketika mata kuliah mulai masuk ke bidang intinya dan ternyata tidak seperti bayangan awal.
Perasaan itu sendiri tidak memberi tahu apa pun tentang keputusan yang benar. Yang perlu dilakukan adalah memisahkan penyebabnya, karena penyebab yang berbeda menuntut jalan keluar yang berbeda.
Memisahkan Penyebabnya
| Yang Anda rasakan | Kemungkinan penyebabnya | Arah jalan keluar |
|---|---|---|
| Nilai turun, materi terasa berat | Cara belajar belum cocok, atau dasar mata kuliah tertentu belum kuat | Perbaiki cara belajar sebelum memutuskan apa pun |
| Bosan di kelas, tetapi tetap bisa mengerjakan | Masalah pengajaran atau suasana, bukan bidangnya | Cari sisi bidang yang menarik lewat kegiatan di luar kelas |
| Tidak melihat pekerjaan yang diinginkan dari jurusan ini | Kurang informasi tentang jalur karier bidangnya | Cari tahu alumni jurusan ini bekerja di mana |
| Memang tidak tertarik pada bidangnya sejak awal | Pilihan awal mengikuti orang lain | Ini yang memang perlu dipertimbangkan serius |
| Semua terasa berat, termasuk hal di luar kuliah | Bukan soal jurusan | Hubungi konseling kampus |
Baris terakhir perlu diperhatikan. Kalau yang terasa berat bukan hanya kuliah, melainkan hampir semua hal, mengganti jurusan tidak akan menyelesaikannya. Layanan konseling kampus tersedia di hampir semua perguruan tinggi, umumnya gratis, dan itu tempat yang tepat untuk memulai.
Yang Perlu Dicari Tahu Sebelum Memutuskan
Keputusan yang diambil berdasarkan perasaan di satu semester buruk sering disesali. Kumpulkan dulu empat hal ini.
Bicara dengan tiga alumni jurusan Anda. Bukan satu, karena satu orang hanya mewakili pengalamannya sendiri. Tanyakan mereka bekerja di mana, dan seberapa terpakai isi kuliahnya.
Lihat mata kuliah semester atas. Banyak jurusan terasa membosankan di awal karena masih mata kuliah dasar yang umum, lalu berubah di semester lima ke atas.
Coba bidangnya di luar kelas. Kepanitiaan, proyek kecil, magang singkat, atau kursus daring. Ini cara tercepat mengetahui apakah yang tidak cocok bidangnya atau cara mengajarnya.
Bicara dengan dosen pembimbing akademik. Mereka melihat kasus seperti ini tiap tahun dan tahu mana yang biasanya membaik sendiri.
Pilihan yang Tersedia
Bertahan sambil menambah bekal di luar. Ini yang paling banyak dipilih dan sering paling masuk akal. Ijazah tetap didapat, sementara keterampilan yang Anda inginkan dibangun lewat kursus, magang, atau proyek. Banyak pekerjaan tidak menuntut latar jurusan tertentu.
Pindah program studi di kampus yang sama. Sebagian kampus mengizinkannya pada semester awal, dengan syarat tertentu. Yang perlu ditanyakan sejak awal adalah berapa SKS yang bisa dikonversi, karena itu menentukan berapa lama tambahan waktunya.
Mengambil mata kuliah di program studi lain. Beberapa kampus membuka kemungkinan ini. Ketentuannya berbeda beda dan sempat berubah beberapa kali dalam beberapa tahun terakhir, jadi tanyakan yang berlaku sekarang di kampus Anda, bukan yang Anda baca beberapa tahun lalu.
Mendaftar ulang di jurusan lain. Pilihan paling mahal dari segi waktu dan biaya. Masuk akal kalau Anda masih di semester sangat awal, bidang yang dituju jelas, dan dukungan keluarga ada. Kurang masuk akal kalau Anda sudah di atas semester empat.
Yang Perlu Dihitung Sebelum Pindah
- Berapa SKS yang hangus dan berapa yang bisa dikonversi.
- Berapa tambahan waktu studi, dalam satuan semester.
- Berapa tambahan biayanya, termasuk biaya hidup selama tambahan waktu itu.
- Bagaimana ketentuan beasiswa Anda, kalau sedang menerima.
- Apakah jurusan tujuan benar benar sesuai, atau baru terlihat menarik dari luar.
Poin terakhir yang paling sering terlewat. Setiap jurusan punya bagian yang membosankan, dan bagian itu tidak terlihat dari luar.
Kalau Memilih Bertahan
Bertahan bukan berarti pasrah. Dua hal membuat perbedaan besar.
Cari satu sisi jurusan yang bisa Anda tekuni. Hampir setiap jurusan punya cabang yang lebih dekat dengan minat Anda. Mahasiswa akuntansi yang menyukai teknologi bisa mendalami sistem informasi akuntansi, misalnya.
Bangun bukti kemampuan di luar transkrip. Sertifikat, portofolio, atau pengalaman kerja nyata. Dalam banyak proses rekrutmen, keduanya lebih menentukan daripada nama jurusan.
Perlu diingat juga, banyak orang bekerja di bidang yang tidak sejalan dengan jurusan kuliahnya, dan itu bukan kegagalan. Jurusan menentukan titik awal, bukan seluruh jalan.
Baca Juga
- Memahami SKS, IPK, dan IPS
- Cara Bimbingan Skripsi yang Efektif dengan Dosen Pembimbing
- Bertahan di Tahun Pertama Kuliah
