Cara melakukan uji validitas dan reliabilitas instrumen penelitian

Dua uji ini wajib bagi penelitian kuantitatif yang memakai kuesioner, dan hampir selalu ditanyakan penguji. Keduanya sering dianggap rumit padahal pertanyaannya sederhana.

Validitas menanyakan apakah butir pertanyaan Anda benar benar mengukur hal yang hendak diukur.

Reliabilitas menanyakan apakah alat ukur itu konsisten, yaitu memberi hasil serupa kalau dipakai berulang.

Alat ukur bisa reliabel tetapi tidak valid. Timbangan yang selalu melebihkan dua kilogram itu konsisten, tetapi tetap salah. Karena itu keduanya diuji, bukan salah satu.

Kapan Diuji

Idealnya sebelum pengambilan data utama, lewat uji coba instrumen kepada responden yang berkarakter sama dengan sampel Anda tetapi bukan bagian darinya.

Jumlah responden uji coba yang lazim dipakai sekitar 30 orang. Angka ini praktik umum, bukan ketentuan baku, dan sebagian pedoman kampus menetapkan angka lain.

Sebagian penelitian menguji validitas dan reliabilitas langsung pada data penelitian. Ini juga lazim, tetapi konsekuensinya butir yang gugur tidak bisa diperbaiki lagi. Pastikan mana yang diwajibkan program studi Anda sebelum menyebar kuesioner.

Uji Validitas dengan Korelasi Product Moment

Cara yang paling banyak dipakai untuk kuesioner adalah mengorelasikan skor tiap butir dengan skor total, memakai korelasi Pearson.

Dasar pengambilan keputusannya:

Kondisi Kesimpulan
r hitung lebih besar daripada r tabel Butir dinyatakan valid
r hitung lebih kecil daripada r tabel Butir dinyatakan tidak valid, dibuang atau diperbaiki
Nilai signifikansi di bawah 0,05 Butir dinyatakan valid, dengan taraf nyata 5 persen

Nilai r tabel dicari berdasarkan derajat bebas, yaitu jumlah responden dikurangi dua, pada taraf nyata yang dipakai. Dengan 30 responden, derajat bebasnya 28, dan r tabel pada taraf 5 persen sekitar 0,361.

Jadi butir dengan r hitung di bawah 0,361 pada uji coba 30 responden dinyatakan tidak valid.

Uji Reliabilitas dengan Cronbach Alpha

Untuk kuesioner berskala Likert, ukuran yang paling umum adalah Cronbach Alpha.

Ambang yang sering dipakai 0,60 atau 0,70, bergantung rujukan yang Anda pakai. Perlu dicatat, ambang ini bukan ketetapan tunggal, dan penulis yang berbeda menyarankan angka yang berbeda. Sebutkan rujukan Anda di bab tiga, karena penguji biasanya menanyakannya.

Nilai Alpha Penafsiran yang lazim
Di atas 0,90 Sangat tinggi, tetapi periksa apakah ada butir yang terlalu mirip
0,70 sampai 0,90 Baik
0,60 sampai 0,70 Dapat diterima pada banyak rujukan
Di bawah 0,60 Lemah, instrumen perlu diperbaiki

Perhatikan baris pertama. Alpha yang sangat tinggi tidak selalu kabar baik, karena bisa berarti beberapa butir Anda sebenarnya menanyakan hal yang sama dengan kalimat berbeda.

Urutan Mengerjakannya

  1. Susun butir kuesioner berdasarkan indikator yang sudah Anda sebut di bab dua.
  2. Sebarkan ke responden uji coba, di luar sampel penelitian.
  3. Masukkan data ke pengolah data, satu baris satu responden, satu kolom satu butir.
  4. Uji validitas tiap butir, lalu buang atau perbaiki butir yang gugur.
  5. Uji reliabilitas pada butir yang tersisa saja, bukan pada seluruh butir awal.
  6. Tuliskan hasilnya dalam tabel di bab tiga atau bab empat, sesuai ketentuan kampus.

Langkah kelima sering terbalik urutannya. Menguji reliabilitas sebelum membuang butir yang tidak valid menghasilkan angka yang tidak menggambarkan instrumen akhir Anda.

Kalau Banyak Butir Gugur

Satu atau dua butir gugur itu wajar. Kalau yang gugur banyak, masalahnya biasanya bukan pada responden.

Kalimat butirnya ambigu atau terlalu panjang. Responden menafsirkan berbeda beda, sehingga skornya tidak berpola.

Satu butir menanyakan dua hal sekaligus. Pernyataan yang memuat kata dan sering menjadi dua pertanyaan dalam satu kalimat.

Butirnya tidak berasal dari indikator mana pun. Ini yang paling umum, dan ini menunjukkan bab dua belum menurunkan indikator dengan benar.

Responden uji coba tidak sesuai karakteristik sampel. Menguji kuesioner karyawan kepada mahasiswa akan memberi hasil yang menyesatkan.

Kalau instrumen Anda mengadopsi instrumen penelitian terdahulu, sebutkan sumbernya dan tetap uji ulang pada konteks Anda. Instrumen yang valid di satu populasi tidak otomatis valid di populasi lain.

Baca Juga

By Saputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *