Panduan menyusun skripsi dari nol sampai sidang untuk mahasiswa

Skripsi jarang gagal karena penulisnya tidak mampu. Lebih sering gagal karena penulisnya tidak tahu sedang berada di tahap mana, apa yang seharusnya selesai di tahap itu, dan apa yang sebetulnya bisa ditunda.

Akibatnya waktu habis di tempat yang salah. Ada mahasiswa yang menghabiskan dua bulan menyempurnakan latar belakang padahal metodenya belum jelas, lalu kaget ketika pembimbing menyuruh mengulang dari awal karena rumusan masalahnya tidak bisa dijawab dengan metode yang dipilih.

Panduan ini memetakan seluruh proses, dari belum punya ide sampai keluar dari ruang sidang. Bukan untuk dibaca sekali lalu ditinggalkan, melainkan untuk dibuka ulang setiap kali Anda merasa buntu dan perlu tahu sedang di mana.

Satu catatan di depan. Aturan setiap kampus berbeda, kadang berbeda pula antar program studi di kampus yang sama. Yang ada di sini adalah pola umum. Pedoman resmi kampus Anda selalu menang kalau isinya berbeda.

Gambaran Seluruh Proses

Secara kasar, skripsi punya enam tahap:

  1. Menentukan topik dan menemukan celah penelitian
  2. Menyusun proposal, yaitu tiga bab pertama
  3. Seminar proposal
  4. Mengumpulkan dan mengolah data
  5. Menulis bab empat dan lima
  6. Sidang

Waktu yang dibutuhkan sangat bervariasi, tapi sebagai gambaran, mahasiswa yang mengerjakan dengan ritme wajar biasanya menghabiskan satu sampai dua bulan di tahap pertama, dua bulan di tahap kedua, satu sampai tiga bulan di tahap keempat, dan satu bulan di tahap kelima.

Yang perlu diperhatikan, tahap pertama terlihat paling ringan tapi paling menentukan. Kesalahan di sini akan terbawa ke semua tahap berikutnya dan baru terasa ketika sudah terlambat.

Tahap Satu, Menentukan Topik

Tujuan tahap ini bukan menemukan topik yang hebat, melainkan menemukan topik yang bisa Anda selesaikan.

Topik yang baik memenuhi empat hal sekaligus. Datanya bisa Anda jangkau. Metodenya Anda kuasai atau bisa Anda pelajari dalam waktu yang tersedia. Ada cukup rujukan ilmiah yang membahasnya. Dan ada sesuatu yang belum terjawab di dalamnya.

Yang terakhir itu disebut celah penelitian, dan paling banyak membuat mahasiswa tersendat. Celah penelitian tidak muncul dari merenung, tapi dari membaca. Biasanya ditemukan di bagian saran penelitian lanjutan pada skripsi dan jurnal terdahulu, karena di situlah peneliti sebelumnya menuliskan apa yang belum sempat mereka kerjakan.

Cara praktis memulainya, ambil lima sampai sepuluh jurnal terbaru di bidang yang Anda minati, baca khusus bagian kesimpulan dan sarannya, lalu catat setiap kalimat yang menyebut keterbatasan penelitian. Dari situ biasanya muncul tiga sampai lima kemungkinan topik.

Keluaran tahap ini: satu topik yang sudah Anda diskusikan dengan calon pembimbing, bukan sekadar yang Anda sukai sendiri.

Tahap Dua, Menyusun Proposal

Proposal umumnya terdiri dari tiga bab.

Bab satu berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan, dan manfaat penelitian. Bagian yang paling sering direvisi berulang kali adalah latar belakang, karena banyak mahasiswa menulisnya sebagai esai umum tentang pentingnya topik, padahal fungsinya adalah mengantar pembaca sampai pada satu pertanyaan yang spesifik.

Bab dua berisi landasan teori dan penelitian terdahulu. Kesalahan paling umum di sini adalah menumpuk definisi dari banyak ahli tanpa menghubungkannya ke penelitian Anda. Teori yang dimasukkan seharusnya hanya teori yang nanti benar benar Anda pakai untuk menganalisis data.

Bab tiga berisi metode penelitian. Di sinilah skripsi paling sering ditolak saat seminar, karena metodenya tidak nyambung dengan rumusan masalah. Kalau rumusan masalah Anda menanyakan seberapa besar pengaruh, metodenya harus bisa mengukur. Kalau menanyakan bagaimana sebuah proses terjadi, metodenya harus bisa menggali.

Urutan penulisan yang saya sarankan justru terbalik dari penomorannya. Tulis kerangka bab tiga lebih dulu secara kasar, karena metode menentukan jenis pertanyaan yang bisa Anda jawab. Baru setelah itu rapikan bab satu, lalu bangun bab dua di sekitar keduanya.

Keluaran tahap ini: draf tiga bab yang sudah dibaca pembimbing minimal dua kali.

Tahap Tiga, Seminar Proposal

Seminar proposal bukan ujian menghafal. Yang diuji adalah apakah penelitian Anda masuk akal untuk dikerjakan.

Pertanyaan yang hampir pasti muncul:

  • Mengapa topik ini penting diteliti sekarang
  • Apa bedanya dengan penelitian yang sudah ada
  • Dari mana datanya dan apakah Anda yakin bisa mendapatkannya
  • Mengapa memilih metode itu dan bukan yang lain
  • Berapa jumlah sampel dan atas dasar apa ditentukan

Siapkan jawaban untuk kelimanya dalam bentuk kalimat pendek, bukan paragraf hafalan. Penguji lebih menghargai jawaban yang jelas dan jujur daripada jawaban panjang yang berputar.

Satu hal yang sering dilupakan, catat semua masukan penguji saat itu juga, termasuk yang terdengar sepele. Masukan ini biasanya ditagih kembali saat sidang akhir.

Tahap Empat, Mengumpulkan dan Mengolah Data

Tahap ini paling sulit diperkirakan waktunya karena bergantung pada pihak lain. Responden bisa lambat mengisi kuesioner. Izin penelitian bisa tertahan di meja yang tidak Anda duga. Narasumber bisa membatalkan janji temu.

Urus izin lebih awal. Surat izin penelitian sering butuh waktu lebih lama daripada perkiraan siapa pun. Urus begitu proposal lolos, jangan tunggu instrumen selesai.

Uji instrumen pada kelompok kecil dulu. Sebarkan kuesioner ke sepuluh orang sebelum menyebarkannya ke semua responden. Pertanyaan yang ambigu akan ketahuan di tahap ini, dan memperbaikinya sekarang jauh lebih murah daripada setelah tiga ratus orang mengisi.

Simpan data mentah, jangan hanya hasil olahannya. Pembimbing dan penguji berhak memintanya, dan kehilangan data mentah adalah salah satu mimpi buruk yang paling bisa dicegah.

Tahap Lima, Menulis Bab Empat dan Lima

Bab empat berisi hasil dan pembahasan. Kesalahan paling umum di sini adalah berhenti di hasil. Mahasiswa menampilkan tabel, menjelaskan isi tabel dengan kalimat, lalu pindah ke tabel berikutnya. Itu baru hasil, belum pembahasan.

Pembahasan adalah ketika Anda menjelaskan mengapa hasilnya seperti itu, menghubungkannya dengan teori di bab dua, dan membandingkannya dengan penelitian terdahulu. Termasuk ketika hasilnya berbeda dari dugaan. Hasil yang tidak sesuai hipotesis bukan kegagalan, asalkan Anda bisa menjelaskan kemungkinan penyebabnya.

Bab lima berisi kesimpulan dan saran. Kesimpulan harus menjawab rumusan masalah, satu per satu, tanpa menambah informasi baru. Saran dibagi menjadi saran praktis bagi pihak terkait dan saran bagi penelitian selanjutnya.

Tulis bagian saran penelitian selanjutnya dengan sungguh sungguh. Selain dinilai, bagian itulah yang nanti dibaca adik tingkat yang sedang mencari celah penelitian, persis seperti yang Anda lakukan di tahap satu.

Tahap Enam, Sidang

Perbedaan sidang dengan seminar proposal, yang diuji sekarang adalah apakah Anda benar benar mengerjakannya sendiri dan paham apa yang Anda kerjakan.

Kuasai bagian metode dan hasil. Dua bagian ini yang paling dicecar. Anda harus bisa menjelaskan mengapa memilih setiap langkah, dan apa arti setiap angka yang Anda tampilkan.

Siapkan jawaban untuk keterbatasan penelitian Anda sendiri. Penguji pasti menemukan kelemahannya. Lebih baik Anda yang menyebutkannya lebih dulu dengan tenang daripada terlihat tidak menyadarinya.

Jangan berdebat. Kalau penguji menunjukkan kekeliruan, catat dan akui. Sidang bukan arena memenangkan argumen.

Jawab seadanya kalau tidak tahu. Mengatakan tidak tahu jauh lebih aman daripada mengarang jawaban yang kemudian diteruskan menjadi pertanyaan berikutnya.

Kesalahan yang Paling Sering Terjadi

Menghindari pembimbing ketika belum ada kemajuan. Ini yang paling merusak. Semakin lama tidak bertemu, semakin berat rasanya untuk menemui, dan jarak itu melebar sendiri sampai berbulan bulan. Datang tanpa kemajuan lebih baik daripada tidak datang.

Membaca terlalu banyak sebelum mulai menulis. Selalu ada jurnal berikutnya. Mulai menulis dari yang sudah ada, lalu tambahkan sambil jalan.

Memilih topik karena terdengar keren. Topik yang datanya tidak bisa Anda jangkau akan menghentikan Anda di tahap empat, dan mengganti topik di tahap itu sangat mahal.

Menunda mengurus administrasi. Surat izin, berkas pendaftaran sidang, dan syarat bebas plagiarisme punya tenggat sendiri yang tidak peduli pada kesiapan naskah Anda.

Mengabaikan format sejak awal. Memperbaiki margin, penomoran, dan gaya sitasi di seratus halaman jauh lebih menyakitkan daripada menerapkannya sejak halaman pertama. Pasang template sesuai pedoman kampus sebelum menulis satu kalimat pun.

Kalau Anda Sedang Macet

Macet di skripsi hampir selalu punya penyebab yang bisa ditunjuk. Coba kenali mana yang sedang terjadi.

Kalau Anda bingung harus menulis apa, biasanya masalahnya ada di bahan, bukan di kemampuan menulis. Kembali membaca.

Kalau Anda tahu harus menulis apa tapi tidak mulai juga, biasanya masalahnya terlalu besar. Pecah jadi bagian yang sangat kecil, misalnya satu sub bab, bukan satu bab.

Kalau Anda menghindari pembimbing, masalahnya rasa bersalah yang menumpuk, bukan materinya. Satu pesan singkat untuk minta waktu bertemu biasanya cukup untuk memecahnya.

Kalau Anda sudah tidak yakin dengan topiknya, bicarakan secepatnya. Mengganti arah di bulan kedua masih murah, di bulan keenam sudah sangat mahal.

Penutup

Skripsi adalah proyek panjang pertama yang Anda kelola sendiri dari awal sampai akhir. Yang membuatnya selesai bukan kecerdasan, melainkan kemampuan tetap bergerak pelan dalam waktu yang lama, dan kemauan menemui pembimbing di hari ketika Anda paling malas menemuinya.

Panduan Terperinci untuk Tiap Tahap

Panduan Utama Lainnya di InfoMahasiswa

Panduan Lanjutan

By Saputra

11 thoughts on “Panduan Menyusun Skripsi dari Nol sampai Sidang”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *