Pertanyaan berapa jumlah sampel yang saya butuhkan hampir selalu muncul di seminar proposal, dan hampir selalu dijawab dengan kurang meyakinkan. Bukan karena mahasiswa tidak menghitung, melainkan karena mereka menghitung tanpa tahu mengapa rumus itu dipakai.
Artikel ini menjelaskan urutan yang benar, yaitu menentukan populasi lebih dulu, baru menghitung sampel, baru memilih cara mengambilnya. Ketiganya sering dibalik, dan itu sumber sebagian besar masalah.
Langkah Satu, Tentukan Populasi dengan Batas yang Jelas
Populasi adalah keseluruhan subjek yang hasil penelitian Anda nanti berlaku untuknya. Bukan semua orang, melainkan kelompok tertentu dengan batas yang bisa dinyatakan.
Batas itu harus memuat tiga hal. Siapa, bukan mahasiswa melainkan mahasiswa aktif program sarjana. Di mana, bukan di Indonesia melainkan di satu fakultas atau wilayah yang Anda sebutkan. Kapan, tahun akademik atau periode tertentu, karena jumlahnya berubah tiap tahun.
Contoh populasi yang batasnya jelas: mahasiswa aktif Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas X angkatan 2023 sampai 2025, berjumlah 1.200 orang.
Contoh yang batasnya kabur dan akan ditanyakan penguji: mahasiswa di Kota X. Pertanyaan yang akan muncul, mahasiswa jenjang apa, kampus mana saja, tahun berapa, dan dari mana Anda tahu jumlahnya.
Soal Populasi yang Jumlahnya Tidak Diketahui
Populasi terhingga adalah populasi yang jumlahnya bisa dipastikan, misalnya jumlah mahasiswa satu program studi yang datanya ada di bagian akademik. Untuk ini, rumus Slovin bisa dipakai.
Populasi tak terhingga adalah populasi yang jumlahnya tidak bisa dipastikan, misalnya pengguna sebuah aplikasi atau pembeli di sebuah toko daring. Untuk ini rumus Slovin tidak berlaku, dan Anda perlu rumus lain seperti Lemeshow atau Cochran.
Kesalahan yang sering terjadi adalah memakai Slovin untuk populasi yang jumlahnya sebenarnya tidak diketahui, lalu mengarang angka populasi agar rumusnya bisa jalan. Penguji yang teliti akan menanyakan dari mana angka itu.
Langkah Dua, Hitung Jumlah Sampel
Untuk populasi terhingga, rumus yang paling umum dipakai di Indonesia adalah rumus Slovin.
n = N ÷ (1 + N × e²)
Keterangannya, n adalah jumlah sampel yang dibutuhkan, N adalah jumlah populasi, dan e adalah batas kesalahan yang Anda terima dalam bentuk desimal.
Batas kesalahan yang lazim dipakai adalah 5 persen untuk penelitian yang menuntut ketelitian lebih tinggi, dan 10 persen untuk penelitian dengan populasi besar dan sumber daya terbatas.
Contoh perhitungan dengan batas kesalahan 5 persen
Populasi 1.200 mahasiswa, batas kesalahan 0,05.
n = 1.200 ÷ (1 + 1.200 × 0,05²) n = 1.200 ÷ (1 + 1.200 × 0,0025) n = 1.200 ÷ (1 + 3) n = 1.200 ÷ 4 n = 300
Contoh perhitungan dengan batas kesalahan 10 persen
Populasi yang sama, batas kesalahan 0,10.
n = 1.200 ÷ (1 + 1.200 × 0,10²) n = 1.200 ÷ (1 + 1.200 × 0,01) n = 1.200 ÷ (1 + 12) n = 1.200 ÷ 13 n = 92,3 dibulatkan menjadi 93
Perhatikan selisihnya. Dengan populasi yang sama, mengubah batas kesalahan dari 5 ke 10 persen memangkas kebutuhan sampel dari 300 menjadi 93. Inilah sebabnya penguji hampir selalu menanyakan mengapa Anda memilih angka itu.
Tabel perkiraan cepat
| Populasi | Sampel pada 5 persen | Sampel pada 10 persen |
|---|---|---|
| 100 | 80 | 50 |
| 250 | 154 | 71 |
| 500 | 222 | 83 |
| 1.000 | 286 | 91 |
| 1.200 | 300 | 93 |
| 5.000 | 370 | 98 |
Gunakan tabel ini untuk memperkirakan, tapi tetap tampilkan perhitungan lengkapnya di bab tiga. Penguji ingin melihat prosesnya, bukan hasilnya saja.
Soal Rumus Slovin yang Perlu Anda Ketahui
Rumus Slovin sangat populer di skripsi Indonesia, tetapi di luar itu rumus ini jarang dipakai dan asal usulnya tidak jelas. Beberapa peneliti mempersoalkannya karena rumus ini tidak memperhitungkan tingkat kepercayaan maupun keragaman populasi, dua hal yang biasanya masuk dalam penentuan sampel.
Kalau pedoman kampus Anda mensyaratkan Slovin, pakai Slovin. Itu yang berlaku untuk Anda. Tetapi kalau penguji menanyakan kelemahannya, jawaban yang menunjukkan Anda tahu bahwa rumus ini punya keterbatasan akan jauh lebih dihargai daripada jawaban yang menganggapnya mutlak.
Langkah Tiga, Pilih Cara Mengambil Sampel
Probabilitas
Setiap anggota populasi punya peluang terpilih. Hasilnya bisa digeneralisasi ke populasi.
Acak sederhana, semua anggota populasi diundi, cocok kalau populasinya seragam dan daftarnya lengkap. Acak bertingkat, populasi dibagi menurut lapisan lalu diambil dari tiap lapisan secara proporsional. Klaster, yang diacak adalah kelompoknya bukan individunya, cocok kalau populasi tersebar di banyak lokasi.
Nonprobabilitas
Tidak semua anggota punya peluang terpilih. Hasilnya tidak bisa digeneralisasi, dan ini harus Anda nyatakan sebagai keterbatasan.
Purposif, dipilih berdasarkan kriteria tertentu, umum di penelitian kualitatif. Aksidental, siapa pun yang kebetulan ditemui dan bersedia, paling lemah dan paling sering dipakai karena paling mudah. Kuota, ditetapkan jumlah per kelompok lalu diisi sampai penuh tanpa pengacakan.
Kalau Anda memakai nonprobabilitas, jangan menuliskan kesimpulan yang berlaku untuk seluruh populasi. Ini kesalahan yang sangat sering muncul di bab lima dan hampir selalu ditangkap penguji.
Contoh Sampel Bertingkat Proporsional
Populasi 1.200 mahasiswa terbagi atas tiga angkatan, dan sampel yang dibutuhkan 300.
| Angkatan | Jumlah | Perhitungan | Sampel |
|---|---|---|---|
| 2023 | 500 | 500 ÷ 1.200 × 300 | 125 |
| 2024 | 400 | 400 ÷ 1.200 × 300 | 100 |
| 2025 | 300 | 300 ÷ 1.200 × 300 | 75 |
| Jumlah | 1.200 | 300 |
Tampilkan tabel seperti ini di bab tiga. Jauh lebih meyakinkan daripada menulis bahwa sampel diambil secara proporsional tanpa menunjukkan angkanya.
Soal Sampel Penelitian Kualitatif
Semua di atas berlaku untuk penelitian kuantitatif. Kualitatif bekerja dengan logika yang berbeda dan tidak memakai rumus.
Jumlah narasumber ditentukan oleh kejenuhan data, yaitu titik ketika wawancara berikutnya tidak lagi memunculkan informasi baru. Dalam praktiknya, skripsi kualitatif sering berkisar antara lima sampai lima belas narasumber, tetapi angka itu bukan patokan baku.
Yang perlu Anda jelaskan di bab tiga bukan jumlahnya, melainkan kriteria pemilihan narasumber dan alasan mengapa mereka yang dipilih.
Kesalahan yang Paling Sering Muncul di Sidang
Tidak bisa menunjukkan dari mana angka populasi diperoleh. Sebutkan sumbernya, misalnya data bagian akademik per tanggal tertentu, dan simpan buktinya.
Jumlah responden yang masuk ternyata kurang dari hasil hitungan. Yang harus dilakukan bukan menyembunyikannya, melainkan menyebutkannya dan menjelaskan dampaknya pada kesimpulan.
Memakai nonprobabilitas tapi menyimpulkan untuk seluruh populasi. Keterbatasan harus dinyatakan, bukan diabaikan.
Tidak bisa menjelaskan alasan memilih batas kesalahan. Siapkan jawabannya sejak awal.
Baca Juga
- Panduan Menyusun Skripsi dari Nol sampai Sidang
- Cara Memilih Topik Skripsi yang Tidak Membuat Anda Menyesal di Tengah Jalan
- Cara Menyusun Latar Belakang Skripsi yang Tidak Bertele-tele
- Memilih Metode Penelitian Kualitatif atau Kuantitatif untuk Skripsi Anda
- Persiapan Sidang Skripsi dan Pertanyaan yang Paling Sering Muncul
- Berapa Lama Sebenarnya Mahasiswa Indonesia Mengerjakan Skripsi

[…] Cara Menentukan Populasi dan Sampel Penelitian […]
[…] Cara Menentukan Populasi dan Sampel Penelitian […]