Sebagian besar kasus plagiarisme di kalangan mahasiswa bukan karena niat menyontek. Terjadi karena tiga hal: tidak tahu bahwa sesuatu perlu disitir, mengira mengganti beberapa kata sudah cukup, atau mengambil dari catatan sendiri yang lupa dicatat sumbernya.
Artikel ini membahas ketiganya, lalu menjelaskan hal yang paling sering disalahpahami, yaitu angka persentase kemiripan.
Lima Bentuk yang Sering Tidak Disadari
Parafrase semu. Mengganti beberapa kata dengan sinonim tapi mempertahankan susunan kalimat aslinya. Ini tetap plagiarisme, dan justru paling mudah terdeteksi karena polanya khas.
Mozaik. Mengambil potongan dari beberapa sumber lalu merangkainya menjadi paragraf, tanpa menyitir satu pun. Terasa seperti tulisan sendiri karena susunannya baru, padahal isinya bukan.
Menyitir sumber tapi menyalin kalimatnya. Mencantumkan nama dan tahun sudah benar, tapi kalau kalimatnya disalin persis, itu harus diberi tanda kutip dan nomor halaman. Tanpa tanda kutip, pembaca menyangka itu rumusan Anda sendiri.
Mengambil gagasan tanpa menyebut sumbernya. Plagiarisme tidak hanya soal kalimat. Kerangka berpikir, klasifikasi, atau temuan orang lain tetap harus disitir meskipun Anda menuliskannya dengan kata kata sendiri.
Mendaur ulang karya sendiri. Memakai bagian dari makalah Anda sendiri yang pernah dikumpulkan di mata kuliah lain, tanpa menyebutkannya. Banyak kampus menggolongkan ini sebagai pelanggaran.
Yang Tidak Perlu Disitir
Pengetahuan umum tidak perlu sumber. Masalahnya, batas pengetahuan umum berbeda antar bidang.
Patokan praktisnya, kalau sebuah fakta bisa Anda temukan di lima sumber berbeda tanpa ada yang mengklaim sebagai penemunya, dan pembaca di bidang Anda sudah mengetahuinya, itu pengetahuan umum. Ibu kota Indonesia tidak perlu sumber. Angka pertumbuhan ekonomi tahun tertentu tetap perlu.
Kalau ragu, sitir. Kelebihan sitasi tidak pernah membuat Anda kena sanksi.
Parafrase yang Benar
Parafrase bukan mengganti kata, melainkan memahami gagasannya lalu menuliskannya ulang dengan susunan Anda sendiri.
Cara yang paling berhasil: baca paragraf aslinya, tutup sumbernya, tunggu sebentar, lalu tulis apa yang Anda pahami tanpa melihat. Setelah itu baru buka lagi untuk memastikan maknanya tidak bergeser. Selama sumber aslinya masih terbuka di layar, kalimat Anda hampir pasti akan mengikuti susunannya.
Contoh
Kalimat asli:
Media sosial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen muda karena menyediakan informasi produk yang mudah diakses dan ulasan dari pengguna lain.
Parafrase yang masih bermasalah:
Media sosial mempunyai dampak yang besar terhadap keputusan membeli konsumen muda sebab menyajikan informasi produk yang gampang dijangkau dan review dari pemakai lain.
Perhatikan bahwa susunannya identik, hanya katanya yang diganti. Ini yang disebut parafrase semu.
Parafrase yang benar:
Konsumen muda cenderung mengandalkan media sosial saat memutuskan pembelian. Dua hal yang membuatnya berpengaruh adalah kemudahan menemukan informasi produk dan kehadiran ulasan dari sesama pengguna (Pratama, 2024).
Susunannya berubah, titik beratnya berpindah, dan sumbernya tetap disitir.
Soal Angka Batas Kemiripan
Di sinilah paling banyak salah paham, jadi saya tulis apa adanya.
Tidak ada angka batas kemiripan yang berlaku nasional. Tidak ada peraturan yang menetapkan satu angka untuk semua perguruan tinggi. Setiap kampus, bahkan setiap program studi, menetapkan ambangnya sendiri melalui pedoman internal.
Jadi angka yang beredar di internet, berapa pun itu, tidak bisa dijadikan pegangan. Yang berlaku untuk Anda hanya angka yang tertulis di pedoman kampus Anda sendiri. Tanyakan ke bagian akademik atau dosen pembimbing, dan minta dokumennya, bukan kabar lisan.
Angka kemiripan juga bukan ukuran plagiarisme. Perangkat pemeriksa hanya mencocokkan untaian kata, tanpa memahami apakah sumbernya disitir dengan benar.
Akibatnya, skripsi dengan kemiripan rendah bisa saja mengandung plagiarisme gagasan yang tidak terdeteksi. Sebaliknya, skripsi dengan kemiripan agak tinggi bisa saja bersih, karena yang terdeteksi adalah daftar pustaka, istilah baku bidangnya, nama lembaga, atau kutipan langsung yang memang sudah diberi tanda kutip dan disitir.
Yang sebaiknya Anda lakukan bukan mengejar angka serendah mungkin, melainkan membuka laporan pemeriksaannya dan melihat bagian mana yang ditandai. Kalau yang ditandai adalah kutipan yang sudah benar, tidak ada masalah. Kalau yang ditandai adalah paragraf analisis Anda sendiri, di situ baru ada yang perlu diperbaiki.
Kebiasaan yang Mencegah Masalah Sejak Awal
Catat sumber bersamaan dengan mencatat isinya. Jangan pernah menyalin kalimat ke dalam catatan tanpa langsung menuliskan sumber dan halamannya. Sebagian besar plagiarisme tidak sengaja bermula dari catatan yang kehilangan sumbernya.
Bedakan kutipan dan ringkasan di catatan Anda. Beri tanda kutip pada apa pun yang Anda salin persis, sejak di catatan. Tiga bulan kemudian Anda tidak akan ingat mana yang kalimat Anda dan mana yang bukan.
Tulis dari catatan, bukan dari sumber yang terbuka. Menulis sambil menatap sumber aslinya hampir selalu menghasilkan susunan yang mengikuti sumber itu.
Periksa lebih awal, jangan di hari terakhir. Memperbaiki temuan butuh waktu, dan pemeriksaan di hari pengumpulan tidak menyisakan ruang untuk itu.
Baca Juga
- Keterampilan Akademik yang Tidak Diajarkan di Kelas
- Cara Membaca Jurnal Ilmiah dengan Cepat tanpa Kehilangan Isinya
- Cara Menyusun Daftar Pustaka yang Benar Beserta Contohnya
- Cara Mengelola Daftar Pustaka dengan Mendeley
