Pilihan metode bukan soal selera, dan bukan pula soal mana yang lebih mudah. Metode ditentukan oleh pertanyaan yang ingin Anda jawab. Kalau pertanyaannya salah dipasangkan dengan metodenya, seminar proposal akan menghentikan Anda di situ juga.
Kesalahan yang paling sering terjadi justru berurutan terbalik. Mahasiswa memilih metode lebih dulu, biasanya karena mendengar salah satunya lebih cepat, lalu menyusun rumusan masalah agar cocok. Hasilnya adalah penelitian yang terasa dipaksakan dan sulit dipertahankan saat ditanya mengapa.
Mulai dari Kata Tanya
Cara tercepat menentukan metode adalah melihat kata tanya di rumusan masalah Anda.
Seberapa besar, berapa banyak, apakah berpengaruh, adakah perbedaan. Pertanyaan seperti ini menuntut pengukuran dan pembandingan angka. Metodenya kuantitatif.
Bagaimana, mengapa, seperti apa prosesnya, apa maknanya. Pertanyaan seperti ini menuntut penggalian dan pemahaman. Metodenya kualitatif.
Kalau rumusan masalah Anda memuat keduanya, kemungkinan besar ada dua penelitian yang digabung menjadi satu. Untuk skripsi, pisahkan dan pilih satu.
Perbandingan Keduanya
| Aspek | Kuantitatif | Kualitatif |
|---|---|---|
| Pertanyaan yang dijawab | Seberapa besar, apakah berpengaruh | Bagaimana dan mengapa |
| Bentuk data | Angka | Kata, dokumen, pengamatan |
| Cara mengumpulkan | Kuesioner, data sekunder | Wawancara, observasi, telaah dokumen |
| Jumlah sumber data | Banyak, dihitung dengan rumus | Sedikit, sampai informasinya jenuh |
| Keterampilan utama | Statistik dan pengolahan data | Wawancara dan analisis teks |
| Waktu pengumpulan data | Menyebar kuesioner relatif cepat | Wawancara dan transkripsi memakan waktu |
| Waktu analisis | Relatif cepat setelah data lengkap | Lama, karena transkrip dibaca berulang |
| Risiko terbesar | Responden tidak terkumpul | Narasumber membatalkan atau menutup diri |
Soal Anggapan Mana yang Lebih Cepat
Anggapan bahwa kualitatif lebih cepat karena jumlah narasumbernya sedikit perlu diluruskan.
Jumlah narasumbernya memang sedikit, tapi satu wawancara satu jam bisa menghasilkan transkrip dua puluh halaman, dan transkripsi itu dikerjakan sendiri. Lima narasumber saja sudah menghasilkan seratus halaman yang harus dibaca berulang, dikodekan, dan dikelompokkan.
Sebaliknya, kuantitatif memang menuntut responden banyak, tapi setelah data terkumpul, pengolahannya berjalan relatif cepat.
Jadi keduanya berat di tempat yang berbeda. Kuantitatif berat di pengumpulan, kualitatif berat di analisis.
Pertanyaan yang Menentukan Sebelum Memutuskan
Berapa banyak responden yang realistis Anda jangkau dalam dua bulan? Kalau populasinya kecil dan sulit dijangkau, kuantitatif akan berhenti di tengah jalan karena jumlah sampel tidak terpenuhi.
Apakah Anda punya akses ke narasumber yang tepat? Kualitatif menuntut orang yang benar benar mengalami hal yang Anda teliti, dan bersedia diwawancarai dengan jujur. Akses ini sering diasumsikan ada padahal belum dipastikan.
Seberapa jauh kemampuan statistik Anda? Kalau penelitian Anda menuntut analisis yang belum pernah Anda jalankan, hitung waktu belajarnya sejak sekarang, jangan menemukannya sebagai kejutan.
Apakah Anda nyaman mewawancarai orang asing? Ini jarang dibahas padahal menentukan. Wawancara mendalam menuntut kemampuan menggali tanpa menggiring, dan itu tidak nyaman bagi sebagian orang.
Apa yang lazim di program studi Anda? Sebagian program studi punya kecenderungan kuat ke salah satu metode, dan ketersediaan pembimbing mengikuti kecenderungan itu.
Soal Metode Campuran
Metode campuran menggabungkan keduanya, dan terdengar menarik karena seolah memberi gambaran paling lengkap.
Untuk skripsi, saya sarankan hati hati. Metode campuran berarti Anda mengerjakan dua pengumpulan data, dua jenis analisis, dan satu pekerjaan tambahan yang sering diremehkan, yaitu memadukan kedua temuan menjadi satu kesimpulan yang utuh. Pekerjaan ketiga itu yang paling sering gagal.
Ambil metode campuran hanya kalau pembimbing Anda menyarankannya dan waktunya memang panjang.
Kalau Sudah Terlanjur Memilih dan Terasa Salah
Semakin awal diperbaiki semakin murah. Kalau Anda masih di tahap proposal, mengubah metode berarti menulis ulang bab tiga dan menyesuaikan rumusan masalah. Itu berat tapi masih wajar.
Kalau data sudah mulai terkumpul, bicarakan dengan pembimbing sebelum mengambil langkah apa pun. Kadang yang perlu diubah bukan metodenya, melainkan rumusan masalahnya, agar cocok dengan data yang sudah ada di tangan.
Yang harus dihindari adalah memaksakan analisis yang tidak sesuai dengan jenis data, karena itu akan terbongkar di sidang.
Metode Ditentukan Pertanyaan, Bukan Selera
Urutan yang benar selalu pertanyaan penelitian lebih dulu, metode menyusul. Yang sering terjadi sebaliknya: mahasiswa memutuskan ingin memakai kuesioner, lalu mencari pertanyaan yang cocok dengan kuesioner itu. Hasilnya penelitian yang metodenya rapi tetapi pertanyaannya tidak penting.
Cara memeriksanya pendek. Lihat kata kerja pada pertanyaan penelitian Anda.
| Bentuk pertanyaan | Arah metode |
|---|---|
| Seberapa besar pengaruh A terhadap B | Kuantitatif |
| Apakah ada perbedaan antara kelompok A dan B | Kuantitatif |
| Berapa banyak, seberapa sering, seberapa tinggi | Kuantitatif |
| Bagaimana proses sesuatu terjadi | Kualitatif |
| Mengapa pihak tertentu memilih bertindak demikian | Kualitatif |
| Bagaimana pengalaman seseorang dalam suatu keadaan | Kualitatif |
Kalau pertanyaan Anda mengandung dua bentuk sekaligus, itu pertanda pertanyaannya masih terlalu luas, bukan pertanda Anda butuh metode campuran. Persempit dulu.
Alasan yang Tidak Cukup untuk Memilih Metode
Takut statistik. Alasan paling umum, dan paling mahal. Penelitian kualitatif tidak lebih mudah; analisisnya menuntut ketelitian membaca dan menyusun kategori, dan pengujinya biasanya lebih teliti justru karena tidak ada angka yang bisa dijadikan sandaran.
Mengikuti teman satu angkatan. Pertanyaan penelitian Anda bukan pertanyaan mereka.
Mengira kualitatif lebih cepat. Wawancara, transkripsi, dan pengodean biasanya memakan waktu lebih lama daripada menyebar kuesioner, terutama kalau narasumber Anda sulit ditemui.
Karena data sekunder sudah tersedia. Data yang tersedia belum tentu menjawab pertanyaan Anda. Memaksakannya menghasilkan bab pembahasan yang tidak berhubungan dengan pertanyaannya.
Soal Metode Campuran
Metode campuran sah dan kadang memang yang paling tepat, tetapi perlu diingat bahwa beban kerjanya hampir setara dua penelitian. Untuk skripsi dengan tenggat satu semester, ini sering menjadi penyebab keterlambatan.
Kalau Anda tetap memilihnya, pastikan dapat menjawab satu pertanyaan ini: bagian mana yang dikerjakan lebih dulu, dan apa yang dilakukan bagian kedua terhadap hasil bagian pertama. Kalau jawabannya belum jelas, yang Anda rencanakan biasanya bukan metode campuran, melainkan dua penelitian yang diletakkan berdampingan.
Yang Ditanyakan Penguji tentang Metode
Tiga pertanyaan ini muncul di hampir semua sidang, apa pun metodenya.
Mengapa metode ini, bukan yang lain. Jawaban yang diterima selalu merujuk pada pertanyaan penelitian, bukan pada ketersediaan data atau kemampuan Anda.
Mengapa jumlah sampel atau narasumbernya sebanyak itu. Siapkan dasarnya, baik rumus untuk kuantitatif maupun alasan kecukupan untuk kualitatif.
Apa keterbatasan penelitian Anda. Menyebutkan keterbatasan secara jujur hampir selalu dinilai lebih baik daripada mengaku tidak ada. Setiap metode punya batas, dan penguji sudah mengetahuinya sebelum bertanya.
Memastikan ke Pedoman Kampus
Sebagian program studi membatasi metode yang boleh dipakai untuk skripsi, atau mewajibkan uji tertentu untuk penelitian kuantitatif. Ada juga yang menetapkan jumlah minimal narasumber untuk penelitian kualitatif. Ketentuan ini tertulis di pedoman penulisan skripsi program studi Anda, dan membacanya sebelum menyusun proposal menghemat satu putaran revisi.
Baca Juga
- Panduan Menyusun Skripsi dari Nol sampai Sidang
- Cara Memilih Topik Skripsi yang Tidak Membuat Anda Menyesal di Tengah Jalan
- Cara Menyusun Latar Belakang Skripsi yang Tidak Bertele-tele
- Cara Menentukan Populasi dan Jumlah Sampel Penelitian
- Persiapan Sidang Skripsi dan Pertanyaan yang Paling Sering Muncul
- Berapa Lama Sebenarnya Mahasiswa Indonesia Mengerjakan Skripsi
